Saya Pernah Jadi Almashira
Masa-masa itu seperti sebongkah rubik bagi orang awam. Begitu kompleks dan absurd, tapi juga menarik. Pada masa inilah saya mengenal istilah passion--"Ah, passion gue kan bukan itu!", "Hobi ama passion emang beda ya?", "Elo enak ya udah nemu passion elo tuh apa".Passion. Atas dasar inilah saya menulis Circa, saya menciptakan karakter Almashira. Karena saya juga pernah jadi Almashira.Walau sudah tahu kata passion, saya belum memahami benar artinya. Jadinya dulu saya hanya tahu bahwa masuk IPA tuh pintar dan keren (walau geeky), sedangkan masuk IPS... well, it looks less smart. Jadilah saya masuk IPA walau selama ini nyadar kemampuan matematis standar banget dan saya YAKIN banget kalau otak kanan dan kiri saya sebenarnya imbang. Suka matematika dan suka art sama besarnya; jadi nggak pernah 100% menguasai kedua-duanya. Pemikiran itu tentunya salah, bahkan bisa dibilang primitif. Masuk IPA atau IPS sama-sama OK, sama-sama keren. Dan yang terpenting, apa dasarnya sih kita memilih jurusan itu? Alasannya nggak cukup dengan "Biar nanti gampang cari kerja, cari uang" lho. Your life--your days, goal, and adventure within--is not all about money. Paling enak adalah dengan bekerja sesuai dengan pilihan hati kita--passion kita--karena rasanya jadi nggak kayak kerja. Seperti yang Confucius bilang: "Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life." Jadi, coba gali inner-self-mu (seperti yang Almashira lakukan saat SMA). Setidaknya dengan mengetahui apa passion-mu, itu akan mempermudah kamu memilih jurusan yang kamu mampu dan tentunya, kamu suka.I remember those frozen moments. High school life.
But have no worries for those who haven't yet finding this hidden passion. Mencari passion-mu sama saja dengan menelusuri dirimu yang sesungguhnya. Just be true to yourself and listen what your heart has to say :-)Masa SMA nggak akan pernah mudah. Justru itu yang membuatnya berharga dan penuh kenangan. Isi masa ini seperti yang saya lakukan, seperti yang Almashira jalani. Saya tidak pernah menyesal memilih IPA, walau saya suka menulis, melukis, dan mendesain. Saya mungkin terlambat menyadari pentingnya passion ini, tidak seperti Almashira. Tapi saya bangga dan bahagia bisa hidup, berkarya, dan berkontribusi sesuai apa yang saya mampu dan saya cintai sepenuh hati.Have a wonderful journey, guys!

