Cap Go Meh -- cuplikan STILA-ARIA .2

Sa-2
Walau Imlek kali ini matahari luar biasa on fire-nya, semoga tidak menyurutkan semangat baru di tahun Naga bagi yang merayakan yaa ;-)

Sesuai janji saya (dan momen Lunar New Year yang pas banget!), silakan melepas kangen dengan Aria dan teman-temannya pada cuplikan kisah STILA-ARIA .2: Kincir-Kincir Hati dari chapter "Cap Go Meh".

Belum baca STILA-ARIA? Buku ke-1 dari serial ini bisa dibeli langsung via @TerrantBooks + dapat disc 35%.

Enjoy ;-)

-----

Jamie masih mengantuk pagi ini tapi matahari sudah semakin tinggi. Panasnya membuatnya tidak bisa lagi bermalas-malasan seperti tadi di dalam mobil, nyaman full AC, sambil mendengarkan sepasang DJ “ngoceh” di Morning Zone-nya radio Trax FM. Jadi dengan badan “diseret”, kaki yang begitu berat melangkah, dan mata yang masih kuyu, Jamie pun melewati gerbang sekolah. Nggak konek dengan dunia sekitarnya.

Sampai sebuah kepala berambut coklat berpapasan dengan Jamie dan ia pun langsung melek. Kaget bercampur heran. Bukan hanya rambutnya aja yang berbeda dengan anak Indonesia kebanyakan, tapi juga kulitnya. Bukannya ia satu-satunya yang paling bule di sini? Kok sekarang malah ada saingan?

Belum sempat Bule bertanya-tanya lebih lanjut di dalam hati, sederet lampion kertas warna merah yang dijentreng dalam seutas tali panjang nyaris menabrak mukanya.

“Minggir dong, Le! Lagi repot nih,” seru Nicole, cewek keturunan Tionghoa Kantonis yang mata dan garis wajahnya seperti Lucy Liu versi ABG. Tentu saja Cole girang bin GR dengan julukan ini. Ia sendiri tahu Lucy Liu bukan karena suka film lawas Charlie’s Angels, tapi ngintip mamanya nonton serial Dirty Sexy Money di StarWorld yang dibintangi aktris sama.

“Eh, elu, Cole...” Bule hanya mendengus.

Nicole memang akrab dipanggil teman sekelasnya dengan sebutan “Cole”. Catat, cara mengucapkannya bukan “Koul” melainkan “Cho-le”. Ini panggilan kesayangan anak-anak kelas 8-D, seperti “Bule” untuk Jamie. Sebenarnya Cole anaknya asyik; rame seperti Kui dan Jenar, tapi dia sibuk banget sampai-sampai semua temannya di sekolah hanya melihatnya sekilas-dua kilas saja. Kayak ada hantu lewat. Baru sekolah usai, Cole udah cabut untuk les dansa. Baru anak-anak janjian mau makan di Pizza Hut abis ngerjain group assignment, Cole udah harus hadir untuk resital harpa. Sementara anak-anak lain pada ngambil ekskul kayak basket, renang, band, dan paskibra, kegiatan non-formal Cole justru ajaib dan ekstravagan. “Lu lagi dipersiapkan jadi princess ya, Le?” tanya Musa suatu waktu. Sambil cekikikan kemayu dan mengkilik-kilik pinggang Musa (karena malu dengan khayalannya sendiri), Cole menjawab,”Hohoho, iya, Mus. Lagi dijodohin ama Prince Andrea Cashiragi.” Sudah, habis perkara. Tak ada penjelasan lain tentang mengapa Cole melakukan semua itu.

Cole memang kocak tapi misterius. Tapi melihat figurnya bisa tertangkap mata lebih dari 10 detik cukup mengherankan bagi Bule. Cole nggak sendiri. Di sebelahnya ada Mario yang identik sebagai teman kongkow Bule juga, sesama tim basket. Mereka berdua terlihat sibuk dan ribet dengan belasan lampion dan ornamen-ornamen Imlek yang sebelumnya telah dipasang: amplop merah angpau, hiasan bunga peoni artifisial, aneka gantungan kertas serta pernak-pernik lain yang banyak didominasi warna merah dan emas.

“Kok pasang ornamen baru lagi sih? Imlek kan udah lewat,” tanya Bule, nggak ngerti. Sekolah Pelita Bangsa yang sangat menjunjung tinggi pluralisme selalu merayakan hari besar tiap etnis dan agama yang ada di Indonesia. Dan semua siswanya berpartisipasi, membantu persiapan dengan rela hati walaupun tidak merayakannya.

“Justru itu. 15 hari setelah tahun baru Imlek kan Cap Go Meh.” Dengan gaya cuek, nggak tengil seperti biasanya, Mario nyerobot tempat Jamie begitu saja untuk menggantung lampionnya.

Miss Willa Coates, guru Bahasa Inggris, dengan garis keriput halus dan garis wajah tegas seperti Anna Wintour tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka bertiga. Memandangi hiasan lampion dengan sorot mata nostalgis. Ekspresi tenang guru ini mengundang rasa ingin tahu Cole.

“Miss Coates?”

“I remember celebrating this.. amazing Lunar New Year.. and the following Lantern Festival in Taipei with my sons.”

Kedua mata Cole membelalak, senang. “You? Celebrating Lantern Festival? But you’re..”

“British and a Catholic. But my daughter-in-law is a Chinese. And she introduced our family to a new world we have never imagined before. In the end, we are all one, Nicole. One humanity in this world.”

Cole mengangguk-angguk penuh semangat. Setuju banget dengan sudut pandang Miss Coates yang open-minded ini.

Miss Coates pun pergi dari situ. Cole kembali pada pekerjaannya, mengisyaratkan Mario untuk pindah tempat. “Hiasan pohon mei hwa taro di sana aja, yuk.”

“Okeh.” Mario menurut dengan kalemnya. “Sori, Le. Selama ini gue ngerasa jadi Cina pengkhianat; tiap Imlekan cuma ngabisin bandeng pindang bukannya ikut kerja ngehias-hias.”

Jamie manggut-manggut, nggak niat mau ganggu juga. Lumayanlah, Mario bisa bikin Cole nggak jadi “anak misterius” lagi. Lalu Bule ngeliat pemandangan lebih ajaib lagi: nggak jauh di depannya, Izar gotong-gotong keranjang isi lampion mini, ngikutin induk semang yang sejak tadi sibuk memberi perintah, yang tak lain adalah Aria. Izar... bahkan ikut sibuk juga?