Yuk, Berkontribusi dalam Pendidikan

Anak_tk_papua

Aksi nyata bisa dilakukan dari hal kecil, sesuai kemampuan masing-masing.

Kita tahu #2Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Linimasa di Twitter sudah banjir menyoal mutu dan standar pendidikan nasional yang kita tahu masih jauh dari baik. Kira-kira 8 bulan yang lalu saya mengirimkan email ke Kemdiknas, menanyakan apa tujuan dari pendidikan nasional (yang semakin ke sini semakin saya yakini jawabannya bukan untuk 'mencerdaskan kehidupan bangsa'), namun sampai kini tidak juga ada balasan.

Ngomong aja nggak akan membawa perubahan. Bergantung ke Pemerintah? Sama sekali bukan pilihan utama. Yang bisa membawa perubahan, walau hanya perubahan kecil, adalah aksi nyata dan kita--yep, everyone of us--bisa berkontribusi.

Lalu "perubahan" apa saja yang bisa kamu kontribusikan dalam bidang pendidikan?


1. Jadilah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak kita. Bukan guru di sekolah, apalagi nanny. Ini terinspirasi tweet Mbak Tenik Hartono, group editorial head - parenting di Femina Group. Sesibuk apa pun kita sebagai orangtua, luangkan quality time untuk anak walau hanya 15 menit. Kita juga yang bertanggung jawab untuk perkembangan karakter mereka. Jangan sampai tugas ini tergantikan oleh orang lain. Lagipula ini pilihan kita untuk berkeluarga dan memiliki anak kan? ;-)

2.
Asah kemampuan dan talenta diri, lalu berbagilah. Ilmu yang dibagi tidak akan pernah membuat kita miskin (miskin harta maupun miskin nurani). Justru dengan "mencerdaskan orang banyak" dalam artian sesungguhnya, hidup kita jadi semakin berarti. Makna sukses semakin jelas bagi diri kita. Lihat @mrshananto yang tiap Senin tidak bosan membagi ilmunya dengan #FinClic agar kelas menengah Indonesia melek finansial.

3. Bacakan cerita dan berbagi pengalaman. Untuk anak-anak, membacakan cerita dari buku juga merupakan aktivitas yang akan memperkaya pikiran dan perasaan mereka tentang kehidupan. Untuk anak yang lebih besar (di atas 10 tahun), cara berbagi pengalaman akan lebih seru dilakukan. Dari kisah dan pengalaman, kita akan belajar banyak hal. Dan serunya lagi, pesan yang ditangkap oleh tiap anak yang mendengar bisa berbeda!

4. Cuti kantor sehari dan jadilah guru sehari di Kelas Inspirasi ! Pertama kali diajak ini oleh @ReneCC. Walau sekarang belum bisa, saya ingin sekali bisa ikut pada kesempatan berikutnya.

5. Menjadi @pengajarmuda di pelosok Nusantara. Caranya ada di sini. By the way, suka sekali dengan slogan mereka: "Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin."

6. Ikut menjadi pengajar di @AkademiBerbagi. Apa pun kebisaanmu bisa dibagi di akademi non-profit ini :-)

7. Sumbangkan buku-buku bekas layak pakai milikmu. Bisa ke perpustakaan, rumah singgah, maupun panti asuhan yang ada di sekitar tempat tinggalmu. Start small, think big. Atau bisa juga berupa donasi dana yang disalurkan melalui Indonesia Mengajar.


Seperti kata @TheRealKiyosaki penulis buku favorit saya, Rich Dad, Poor Dad: "Education is a powerful tool. It can open the world to you or stifle you with false filters. Choose your teachers wisely", pendidikan bisa kita dapatkan di mana saja, bukan hanya di bangku sekolah. Bahkan menurut saya, guru terbaik adalah kehidupan itu sendiri karena tanpa henti menempa kita dengan segala ujian dan tantangannya.

Apa yang juga tak kalah pentingnya? Jadikan diri kita guru yang baik untuk orang-orang di sekitar ya ;-)


GAMBAR: 118.98.223.68/KEMDIKBUD/DEPAN

Jeans for us: It's about shape, not size!

Levis_curve_id

Jeans for us, for better and worse.

Tiga cewek. Satu clique. Leah, Gia, dan Rumi. Mereka terinspirasi film The Sisterhood of the Traveling Pants; ingin punya satu jeans keren yang bisa dipake bareng. Apalagi size sama-sama 26; so it shouldn’t be a problem, right? 

Sampai ketika Leah iseng nyoba jeans-nya Rumi yang digantung di belakang pintu dan… nggak muat! Rasanya terlalu ketat di pinggang, padahal ia yakin berat badannya nggak naik.

Gia pun terkena panic attack melihat ini; Leah nggak muat, jangan-jangan gue juga lagi?! Dan benar saja, pas ia nyoba dan duduk, ternyata ada celah kebuka di bagian pinggul belakang. Eww.

Penasaran, Leah pun googling dan dimulai dengan brand favoritnya. Kata kunci sesimpel tiga kata ini: levi’s fit jeans, dan sampailah pada website Levi's Curve ID Fit Finder. Ternyata masalahnya bukan karena mereka bertambah gemuk. Ukuran jeans boleh sama, tapi ternyata bentuk dan curve-nya beda. Ada Slight Curve (untuk lekuk tubuh cenderung lurus), Demi Curve (untuk lekuk tubuh proporsional), dan Bold Curve (untuk lekuk tubuh sangat menonjol). 

“I love their idea of celebrating differences. These are the jeans for US!” Rumi ikutan nimbrung di depan laptop. Math assignment yang bikin kram otak pun terlupakan sesaat.

“Iiiiih, keren banget sih! Ini berarti harus tau dulu CurveID-nya ya kalau mau make skinny, straight, atau flare jeans dengan pas?” Gia ngebayangin bagaimana rasanya kalau semua jeans itu ada di lemarinya.

“Dan nggak cuma itu jenisnya! Gue suka Curve ID Ankle Skinny yang terbaru. Colored jeans are hot this spring. Apalagi ini Demi Curve—gue banget!” Mata Rumi terpaku pada yang nuansa warnanya mirip pink, yaitu Finish Sunset Coral.
 
Ankle
“Model skinny dan cropped gitu paling cocok pake black heels.

“Aaah, itu mah karena elo doyan sama anything colorblocked, Gi!”

Ketiganya super-excited mengisi kuis FIND YOUR CURVE secara bergantian. Muka mereka spontan sumringah saat melihat hasilnya.

“I’m so gonna buy the Curve ID the’ jeans for US’!” cetus Leah akhirnya. “Sorry, guys. Nggak jadi beli one-for-all jeans yaaa!”

GAMBAR: LEVI’S

Memulai Hari dengan Happy? Bisa!

Hannahisjesus
Pagi kembali membuka hari.

Atau bisa dibilang membuka rutinitas kita yang (rasanya) selalu sama.

Bukan hanya mata dan tubuh yang terasa berat, tapi juga semangat dan pikiran. Yang sudah terbayang di kepala: hari ini pasti sama deh kayak kemarin... apa lagi nih kejadian 'ajaib' nanti siang.... pasti mentok-mentoknya bakal jadi boring juga... Yakin banget deh pagi ini Bintaro - PI 'parkir' lagi apalagi sekarang hujan. Intinya, semua yang kita bayangkan tentang awal hari (terutama hari Senin) ibarat neraka.

Nah, capek kan tiap hari bangun pagi kayak gitu, ngejalanin hidup kayak gitu? Kalau saya sih capek abis dan akhirnya berniat banget untuk mengubahnya. Oke, berikut ini tahapan-tahapan yang pernah saya lakukan demi bisa dapetin nggak cuma "Happy Monday", tapi juga happy weeks :

Cara 1 -- "Apa aja ya yang bakal bikin gue seneng hari ini?"

Pasti ada dong! Saya selalu mencari-cari hal ini demi bangkitkan semangat. Yang susah adalah ketika kita yakin banget hal yang menyenangkan itu bakal terjadi dan kenyataannya nggak, kecewanya menjadi-jadi banget. Akhirnya saya mengingatkan diri untuk 'manage your expectation, dear'.

Cara 2 -- Ciptakan conversation yang nyaman dan positif dengan orang rumah.

Yang bilang semua itu dimulai dari rumah tuh bener banget! Pagi-pagi udah BT di rumah, pasti sisa hari jadi menjengkelkan. Jadi usahakan untuk hindari debat di pagi hari yang so pasti makan energi banyak.

Cara 3 -- Sarapan sehat.

Sarapan itu hukumnya wajib banget dilakukan lho. Efek pertama yang kerasa setelah sarapan sehat di pagi hari adalah kita jadi nggak mudah cranky. Terutama kalau sarapan tersebut didominasi sayuran dan buah segar. Sudah nyoba sendiri hal ini dan puas banget dengan hasilnya :-D

Cara 4 -- Always note that "everyone has problems" and "you're not the only one".

Jadi..... jangan merasa hanya kita yang menjalani hari-hari berat ini. Tapi, pilihan kita untuk menjadikan hari ini berat atau tidak.

Cara 5 -- Nggak ngikutin keinginan untuk galau.

To be honest, I already hate the term from the first time I heard it. Galau itu mengikis semangat dan asa, dan bikin segala sesuatu jadi berlarut-larut. Galau mesti dilawan, bukan diikutin.

Cara 6 -- Siapin playlist favorit.

Tau kan kalau musik itu adalah all-time favorite mood booster ?

Cara 7 -- Jangan nonton berita yang muatannya negatif.

Kalau kita melakukannya, tanpa disadari kita sudah menanamkan memori dan rasa yang negatif pada alam bawah sadar kita. Yuk, alihkan ke hal-hal yang indah dan inspiring saja.

Cara 8 -- Akhirnya saya sadar; you change your mindset, you change your world.

Ternyata hidup sadar dan ikhlas itu esensial sekali! Ya, hidup sadar di mana kita menjadi sosok  yang memaksimalkan panca indra, berpikir, punya visi dan tujuan yang jelas, serta tidak hanya "ikut arus" saja. Kita bukan orang yang auto-pilot, bukan juga zombi. Lalu tentang ikhlas... aah, this one is my bloody fave topic (saking susah menerapkannya :-D). Ikhlas itu bukan cuma soal rasa di hati, tapi juga bagaimana kita mengolah informasi di otak dan mengajak hati ikut merasakannya. Ikhlas bukan cuma soal sikap baik di luarnya, tapi di dalamnya kita malah mangkel dan misuh-misuh. Ikhlas terjadi karena setelah kita mencoba berkali-kali, dengan sungguh-sungguh, hasil akhirnya (apa pun itu) merupakan hal yang terbaik karena kita tahu itu usaha terbaik kita. Ikhlas berarti kita melihat dari banyak sisi dan mampu memahaminya. If positive thinking is so damn difficult, try possible thinking. Ketika kita mengubah sudut pandang dan pola pikir kita terhadap sesuatu, terhadap dunia, ajaib lho.. dunia kita pun berubah juga, seperti terlahir kembali :))

Jadi, bisa ya memulai hari ini dengan happy? Ooh.. sudah coba dan gagal lagi? Keep trying. Keep moving forward. Semoga suatu saat kamu bisa merengkuh si happiness ini dimulai dengan membuka harimu yang happy.

Cheers !!!

 

GAMBAR: HANNAHISJESUS.TUMBLR.COM

Jeans for us: It's about shape, not size!

 
Levis_curve_id

Jeans for us, for better and worse.

Tiga cewek. Satu clique. Leah, Gia, dan Rumi. Mereka terinspirasi film The Sisterhood of the Traveling Pants; ingin punya satu jeans keren yang bisa dipake bareng. Apalagi size sama-sama 26; so it shouldn’t be a problem, right? 

Sampai ketika Leah iseng nyoba jeans-nya Rumi yang digantung di belakang pintu dan… nggak muat! Rasanya terlalu ketat di pinggang, padahal ia yakin berat badannya nggak naik.

Gia pun terkena panic attack melihat ini; Leah nggak muat, jangan-jangan gue juga lagi?! Dan benar saja, pas ia nyoba dan duduk, ternyata ada celah kebuka di bagian pinggul belakang. Eww.

Penasaran, Leah pun googling dan dimulai dengan brand favoritnya. Kata kunci sesimpel tiga kata ini: levi’s fit jeans, dan sampailah pada website Levi's Curve ID Fit Finder. Ternyata masalahnya bukan karena mereka bertambah gemuk. Ukuran jeans boleh sama, tapi ternyata bentuk dan curve-nya beda. Ada Slight Curve (untuk lekuk tubuh cenderung lurus), Demi Curve (untuk lekuk tubuh proporsional), dan Bold Curve (untuk lekuk tubuh sangat menonjol). 

“I love their idea of celebrating differences. These are the jeans for US!” Rumi ikutan nimbrung di depan laptop. Math assignment yang bikin kram otak pun terlupakan sesaat.

“Iiiiih, keren banget sih! Ini berarti harus tau dulu CurveID-nya ya kalau mau make skinny, straight, atau flare jeans dengan pas?” Gia ngebayangin bagaimana rasanya kalau semua jeans itu ada di lemarinya.

“Dan nggak cuma itu jenisnya! Gue suka Curve ID Ankle Skinny yang terbaru. Colored jeans are hot this spring. Apalagi ini Demi Curve—gue banget!” Mata Rumi terpaku pada yang nuansa warnanya mirip pink, yaitu Finish Sunset Coral.
 
Ankle

“Model skinny dan cropped gitu paling cocok pake black heels.

“Aaah, itu mah karena elo doyan sama anything colorblocked, Gi!”

Ketiganya super-excited mengisi kuis FIND YOUR CURVE secara bergantian. Muka mereka spontan sumringah saat melihat hasilnya.

“I’m so gonna buy the Curve ID the’ jeans for US’!” cetus Leah akhirnya. “Sorry, guys. Nggak jadi beli one-for-all jeans yaaa!”

GAMBAR: LEVI’S

Max Up Your Black 'n' White Look

Monochrome
Pas beberes lemari, saya baru nyadar.. ternyata selama ini punya baju dan celana--mulai dari kemeja sampai evening shorts-- berwarna hitam maupun putih yang jumlahnya lebih dari 1 ! 

Monochrome style can be two things: classy or boring. Dan untuk bikin penampilan hitam-putih kita jadi oke banget ternyata nggak susah. Just pick one of these 3 key styles:

- Tambahkan lipstik merah, atau

- Kenakan aksesoris warna cerah, atau bahkan neon! A pop of color makes your simple monochrome look amazing. Bisa berupa tas, ikat pinggang, maupun sepatu... atau

- Go for nude makeup !!

 

GAMBAR: CELEBSTYLE.COM

Jeans for us: It's about shape, not size!

 
Levis_curve_id

Jeans for us, for better and worse.

Tiga cewek. Satu clique. Leah, Gia, dan Rumi. Mereka terinspirasi film The Sisterhood of the Traveling Pants; ingin punya satu jeans keren yang bisa dipake bareng. Apalagi size sama-sama 26; so it shouldn’t be a problem, right? 

Sampai ketika Leah iseng nyoba jeans-nya Rumi yang digantung di belakang pintu dan… nggak muat! Rasanya terlalu ketat di pinggang, padahal ia yakin berat badannya nggak naik.

Gia pun terkena panic attack melihat ini; Leah nggak muat, jangan-jangan gue juga lagi?! Dan benar saja, pas ia nyoba dan duduk, ternyata ada celah kebuka di bagian pinggul belakang. Eww.

Penasaran, Leah pun googling dan dimulai dengan brand favoritnya. Kata kunci sesimpel tiga kata ini: levi’s fit jeans, dan sampailah pada website Levi's Curve ID Fit Finder. Ternyata masalahnya bukan karena mereka bertambah gemuk. Ukuran jeans boleh sama, tapi ternyata bentuk dan curve-nya beda. Ada Slight Curve (untuk lekuk tubuh cenderung lurus), Demi Curve (untuk lekuk tubuh proporsional), dan Bold Curve (untuk lekuk tubuh sangat menonjol). 

“I love their idea of celebrating differences. These are the jeans for US!” Rumi ikutan nimbrung di depan laptop. Math assignment yang bikin kram otak pun terlupakan sesaat.

“Iiiiih, keren banget sih! Ini berarti harus tau dulu CurveID-nya ya kalau mau make skinny, straight, atau flare jeans dengan pas?” Gia ngebayangin bagaimana rasanya kalau semua jeans itu ada di lemarinya.

“Dan nggak cuma itu jenisnya! Gue suka Curve ID Ankle Skinny yang terbaru. Colored jeans are hot this spring. Apalagi ini Demi Curve—gue banget!” Mata Rumi terpaku pada yang nuansa warnanya mirip pink, yaitu Finish Sunset Coral.

Ankle
“Model skinny dan cropped gitu paling cocok pake black heels.

“Aaah, itu mah karena elo doyan sama anything colorblocked, Gi!”

Ketiganya super-excited mengisi kuis FIND YOUR CURVE secara bergantian. Muka mereka spontan sumringah saat melihat hasilnya.

“I’m so gonna buy the Curve ID the’ jeans for US’!” cetus Leah akhirnya. “Sorry, guys. Nggak jadi beli one-for-all jeans yaaa!”

GAMBAR: LEVI’S

#POPWRITING: The Untold Lesson (Part 2)

Popwriting2
Sudah selesai baca #PopWriting yang pertama? Nah, sekarang lanjut dengan pembahasan yang kedua ya. Maaf lama banget update-nya. Yuuuuk, langsung dilihat !

 1. Boleh nggak sih langsung mulai menulis tanpa mengetahui tujuan dan perencanaan menulis? Kalau kamu siap dengan ceritamu jadi berkembang tak karuan, go ahead :))

2. Bagaimana caranya memilih nama tokoh yang unik, bahkan memorable? Pertama, pikirkan karakteristik/sifat utama si tokoh; apakah ia tenang, pendiam, sangar, sinis, atau ceria, lalu pilih nama yang menurutmu menggambarkan sifat tersebut. Cara kedua, adalah cari pada daftar nama bayi yang tersebar di internet. Saya biasanya googling dengan kata kunci “Sanskrit baby names”. Cara ketiga, nah.. yang ini cukup ekstrem. Saya pernah beberapa kali mencari nama di deretan batu nisan kuburan saat berziarah ke makam Ayah. Surprisingly, the newfound names are sooo beautiful!

3. Apakah tujuan kamu menulis cerita ini? Ya, jangan lupa tanyakan itu kepada dirimu. Jawab di dalam hati saja, tapi ingat baik-baik jawaban itu. Karena nantinya itu yang akan menjadi landasan kamu berkarya serta penyemangat selama proses kreatif penggarapan cerita berlangsung.

4. Kok saya merasa kurang sreg dengan ide akhir cerita yang pernah saya susun sebelumnya? Boleh nggak ya buat yang baru lagi? Boleh banget! Menyediakan beberapa alternatif akhir cerita dan memilih yang paling OK menurutmu, itu cerdas ;)

5. Saat mulai menulis cerita, saya malah “loncat” mengerjakan bagian peperangan dulu di bab 10, karena punya banyak ide (dan energi!) di situ. Apakah tidak apa-apa? Yep. Tidak apa-apa. Asal ingat untuk kembali menulis secara kronologis lagi setelahnya.

6. Kak Sitta punya rujukan untuk melihat kosa kata Bahasa Indonesia, online please? Sambil menulis di laptop, saya biasanya memastikan dua situs ini: http://www.bahtera.org/kateglo/ dan http://blog.tesaurusindonesia.com juga terbuka ;)

7. Katanya dalam menulis cerita fiksi itu harusnya “Show, don’t tell”. Apakah kita harus mendeskripsikan melulu ya? Tergantung kebutuhannya. Menurut saya, yang penting cerita tersebut terus berjalan ke depan. Cara membuat cerita itu berjalan bisa dengan deskripsi, bisa juga dengan dialog antar tokoh.

8. Dan yang terakhir, masih kebingungan membuat paragraf pembuka pada bab pertamamu? Ingat ya, paragraf pembuka bisa berupa deskripsi singkat maupun dialog. Berikut beberapa contoh yang bisa kamu simak:

- Liburan di tepi pantai kali ini seharusnya menyenangkan, sampai Andien menemukan bercak darah kering pada pintu cottage.

- Ran mandi pagi seperti anak sekolah lainnya, pukul lima pagi. Yang membedakan, hampir tiap malam ia terjaga dan berpatroli dengan keris di tangannya.

- Melihat Mario bertanding dengan baju tenis putih licinnya, membuat Ivy tergoda untuk menjadikannya kotor lagi.

- “Ya. Carlo. Carlo Andara. Apakah saya harus ke Meksiko dulu agar nama saya dapat dieja dengan benar?”

 

Ciaoooo !!!